Tampilkan postingan dengan label ALL ABOUT ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALL ABOUT ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2011

Islam Bersatulah ..!


Diakui atau tidak, keberadaan umat Muslim tidak sebanyak populasi umat Non Muslim di Dunia saat ini. Akan tetapi jumlah ini akan terus berkurang jika kita tidak pandai menjaga persatuan dan kesatuan diantara sesama Muslim. Segala macam cara telah dilakukan oleh mereka yang tidak senang dengan keberadaan Islam, ditambah lagi dengan berbagai konflik yang terjadi dengan sesama muslim sendiri. Seolah menjadi sasaran empuk bagi mereka untuk memecah belah.

Populasi Muslim di dunia adalah sekitar satu miliar. 30% Muslim tinggal di anak benua India, 20% di Sub-Sahara Afrika, 17% di Asia Tenggara, 18% di Dunia Arab, 10% di Uni Soviet danCina. Turki, Iran dan Afghanistan terdiri dari 10% di Timur Tengah non-Arab. Meskipun adaminoritas Muslim di hampir setiap bidang, termasuk Amerika Latin dan Australia, mereka adalah yang paling banyak di Afrika Uni Soviet, India, dan pusat. Ada 5 juta Muslim di AmerikaSerikat.

“Hai manusia! Kami menciptakan kamu dari satu jiwa, laki-laki dan perempuan, danmembuatmu berbangsa-bangsa dan suku, sehingga Anda dapat datang untuk mengenal satu sama lain. Sungguh, yang paling terhormat di antara kamu di hadapan Allah adalah yang terbesar dari Anda dalam kesalehan. Allah Maha Mengetahui. (Qur'an, 49:13)

Rabu, 09 Maret 2011

Mahalnya Hidayah

Carut marut kehidupan umat manusia hari ini, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas Muslim, sebagai akibat jauhnya mereka dari Hidayah (petunjuk) Allah. Carut marut itu terlihat dalam semua level kehidupan, sejak dari kehidupan individu, rumah tangga, masyarakat sampai Negara. Akibatnya, terjadi kekacauan hidup dan kezaliman di mana-mana dan di semua lini kehidupan. Yang paling menyedihkan dan mengerikan lagi, manusia hari ini berlomba-lomba membangkang kepada Allah; Tuhan Pencipta mereka sendiri. Bahkan banyak pula yang bersumpah atas nama Allah untuk kufur pada-Nya dan menyingkirkan hukum Allah dari lapangan kehidupan serta menerapkan hukum jahiliyah sebagai gantinya. Anehnya, mereka masih saja mengklaim sebagai Muslim.

Pertanyaan yang sering muncul ialah : Mengapa manusia ada yang beriman kepada Allah dan hukum Allah dan ada pula yang kafir (mengingkari) Allah dan hukum-Nya dan atau beriman kepada Allah tetapi kafir pada hukum Allah? Kenapa tidak Allah ciptakan saja semua manusia itu beriman kepada-Nya dan kepada hukum-Nya. Bukankah Allah itu Maha Kuasa?

Allah, Sebagai Tuhan Pencipta manusia mempersilahkan manusia itu sendiri yang memilih jalan hidup yang akan mereka jadikan aturan dan standar kehidupan di dunia ini, apakah jalan iman (keyakinan dan ketaatan) kepada-Nya, atau jalan kufur (pengingkaran dan maksiat) kepada-Nya, hukum dan sistem-Nya. Namun setiap pilihan itu akan mengandung konsekuensi akhirat yang berbeda. Allah menjelaskan :

Dan katakanlah: "Kebenaran (Al-Qur’an) itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (29) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shaleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.(30) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka syurga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam syurga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. (31) (QS. Alkhafi : 29 – 31)

Agar manusia tidak mempunyai peluang untuk berprasangka buruk pada Allah, apalagi menuduh-Nya diskriminatif atau zalim dalam memutuskan perkara manusia di Akhirat kelak berkaitan dengan apa yang telah mereka pilih dan kerjakan semasa mereka mendapat jatah hidup di dunia, dan juga sebagai bukti Maha Adilnya Allah Tuhan Pencipta dan tidak diktator, kendati terhadap hamba-Nya sekalipun, Allah telah menciptakan mereka dengan sebaik-baik bentuk dibandingkan dengan makhluk lain, sehingga menjadi makhluk yang sangat sempurna. Kesempurnaan manusia itu dilengkapi dengan fasilitas fisik yang super canggih, dibekali pula dengan empat alat super moderen, yakni telinga, mata, otak dan hati.

Di samping itu, diturunkan pula bagi mereka Kitab Petunjuk Hidup (Al-Qur’an) yang haq (benar), untuk menjelaskan mana haq (kebenaran) dan mana pula yang bathil, mana yang menyelamatkan dan mana yang menyesatkan manusia serta dibantu pula penjelasannya oleh seorang Rasul bernama Muhammad Saw. Kitab Petunjuk Hidup yang terjamin keasliannya sampai hari Kiamat itu didukung pula oleh tanda-tanda Kebesaran dan Keagungan-Nya yang tesirat dalam jagad raya dan dalam diri manusia yang setiap saat dan waktu Allah munculkan, baik melalui kerja keras manusia dalam melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah, atau Dia munculkan begitu saja di hadapan mereka.

Namun demikian, mengapa masih banyak manusia yang ingkar, menentang Allah Tuhan Pencipta, dan bahkan ada yang menolak keberadaan-Nya sedangkan mereka sendiri tinggal di atas bumi yang diciptakan-Nya?

Dalam kondisi umat manusia hari ini yang sedang kehilangan pegangan dan petunjuk hidup, maka nilai Hidayah terasa sangat mahal. Karena dengan Hidayah itulah manusia bisa hidup mulia dan selamat di dunia dan di akhirat.

Untuk merasakan betapa mahalnya nilai sebuah Hidayah, paling tidak ada dua hal yang perlu diketahui. Pertama, pengertian Hidayah. Kedua, Macam-Macam Hidayah.

1.Pengertian Hidayah (Petunjuk)
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : هدى – يهدي – هديا – هدى – هدية - هداية (hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan). Khusus yang terakhir, kata (هداية) kalau wakaf (berhenti) di baca : Hidayah, nyaris seperti ucapan bahasa Indonesia. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : ضلالة (Dholalah) yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Pengertian seperti ini dapat kita pahami melalui firman Allah surat Al-Baqarah berikut :

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)

2.Macam-Macam Hidayah
Para Ulama besar Islam telah menjelaskan dengan rinci dan mendalam perihal Hidayah/Hudan, khususnya yang diambil dari Al-Qur’an seperti yang ditulis oleh Al-Balkhi dalam bukunya “Al-Asybah wa An-Nazho-ir”, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya “At-Tashoriif”, As-Suyuthi dalam bukunya “Al-Itqon” dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya “Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir”.

Hidayah/Hudan Dalam Al-Qur’an tercantum sekitar 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 Hadits. Sedangkan pengertian Hidayah / Hudan dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat sekitar 27 makna. Di antaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, Iman (keyakinan), seruan, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul /kitab, Al-Qur’an, Taurat, taufiq/ketepatan, menegakkan argumentasi, Tauhid/ mengesakan Allah, Sunnah/Jalan, perbaikan, ilham/insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.

Dari 27 pengertian tersebut di atas, sesungguhnya Hidayah, secara umum, terbagi menjadi empat bagian utama :

1.Hidayah I’tiqodiyah (Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup), seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :

“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl : 37)

Atau seperti firman Allah berikut ini :

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min: 28)

2.Hidayah Thoriqiyah (Petunjuk Terkait Jalan Hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj: 67)

ِAtau seperti firman Allah di bawah ini :

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al-Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)

3.Hidayah ‘Amaliyah (Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup), seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

4.Hidayah Fithriyah (Fitrah). Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.

Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firma-Nnya:

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". (Q.S. Al-An’am: 77)

Semoga Allah membantu dan menolong kita dalam memahami betapa mahalnya nilai Hidayah dan mensyukuri Hidayah yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Tanpa Hidayah mustahil kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Dan semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin…

Selasa, 07 Desember 2010

Semangat Hijrah


Segala puji hanya bagi Allah Azza Wazalla yang tiada terhingga, karena-Nya lah kita semua telah sampai dan bertemu kembali dengan tahun baru 1432 Hijriah. Tidak lupa marilah kita sampaikan shalawat dan salam kepada Uswatun Hasanah kita, Sayyidul Anbiyaa Wal Mursaliin Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Sudah sewajarnya setiap memasuki tahun baru Islam, kita hendaknya memiliki semangat baru untuk merancang dan melaksanakan hidup ini secara lebih baik. Kita seharus merenung kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah. Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama 'Tahun Muhammad' atau 'Tahun Umar'. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Tidak juga seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (dewa matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 pebruari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura) Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Seandainya ia berambisi untuk mengabadikan namanya dengan menamakan penanggalan itu dengan Tahun Umar sangatlah mudah baginya melakukan itu. Umar tidak mementingkan keharuman namanya atau membanggakan dirinya sebagai pencetus ide sistem penanggalaan Islam itu. Ia bahkan menjadikan penanggalan itu sebagai zaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Beliaulah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah). 

Dalam sejarah hijrah nabi dari Makkah ke madinah terlihat jalinan ukhuwah kaum Ansor dan Muhajirin yang melahirkan integrasi umat Islam yang sangat kokoh. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa umat Islam jaya dan disegani. Bisa dimengerti, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah yang tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.

Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat Islam. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Hadist Rasulullah yang sangat populer menyatakan :
 ''Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, Adalah orang yang beruntung “.
Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.'' Oleh karena itu, sesuai dengan firman Allah:

''Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat) dan bertakwalah, sesungguhnya Allah maha tahu dengan apa yang kamu perbuatkan''. (QS. Al-Hasyar: 18).

Sungguh indah apabila ditahun baru ini kita mempunyai semangat yang kuat untuk menjadikan lebih baik lagi dari tahun-tahun yang telah kita lewati, sehingga apapun yang kita lewatu menjadi lebih berarti untuk dijadikan bekal kita dikala mengahdap Allah Rabbul'Aalamiin nanti…….

SELAMAT TAHUN BARU 1432 HIJRIAH


Jumat, 22 Oktober 2010

Zuhud Non Meaning is Impecunious.



Human being created by Allah as khalifah on earth, as human being khalifah have heavy responsibility and duty. Even only just human being which accept this responsibility and duty, while the other refuse. In Al Holy affirmed by how creature besides human being do not ready to to shoulder the heavy duty. Paying attention Allah firman in Al Ahzab letter: 72 following.

Its meaning: " In fact We have told commendation ( religious duties) to sky, mounts and earth, Hence altogether shy at to shoulder that commendation and they party to betraying [him/ it], and shouldered by that commendation by human being." ( QS. Al Ahzab: 72)

Therefore, Allah award human being an ability which do not have by lian creature, that is ability think ( nadhariyah quwah) beside give ability of physical ( quwah ' amaliah) [is] such as those which passed to other Allah makhuk-makhluk. That thing is meant to assist human being in running its dutys.

Ably thinking [him/ it], human being can differentiate ugly and good things. That way also, with the award [of] human being in all day long [his/its] earn worthwhile nengambil to its it[him] and also others, and also can prevent something that can cause ugly to x'self also others. While ably owned physical [it], human being can try and work for to fulfill requirement [of] its life.

Duty human being as khalifah is to have religious service, good that religious service which in character individually and also social. Become, all action which its its[his], both for relating to their/his self and or others, only instructed for the religious service of and serve to Allah. Allah Berfirman in Adz Dzariyat letter: 56:

Its meaning: " And I [do] not create human being and genie but so that they serve to me." ( QS. Adz Dzariyat: 56)

Besides, human being also take charge of to develop;build earth (' imaratul-ardli), not on the contrary, destroy earth just for earthly importances and listen go desire [of] mere passion atmosphere.

Other on course, utilize to fulfill its fundamental life, human being require to eat, drink clothes, and residence. Fact like that's causing human being to work and make an effort in order to closing over requirement [of] life. Work and make an effort to look for living cost non meaning to express attitude like to good and chattel, but just fulfilling requirement [of] life. With that activity, human being can execute its duty.

In context like this, work and make an effort to become something that [is] obliged to, because have religious service [to] [is] [is] obliged to. While have religious service [to] without working, in general human being cannot fulfill requirement [of] its life. That thing is as according to method:

" Something that if obligation cannot perfect without him, hence something is the [of] law [is] obliged to its"

On the other hand, human being governed for the zuhud of, to leaving every thing related to is earthly. This represent a separate dilemma. One human being side have to work to look for good and chattel utilize to close over everyday requirement [of] nya, but on the other side him governed [by] zuhud. This become contemplation [all] Sufi - especially ancient moslem scholar/ salaf- utilize to give accurate and correct solution.

Congeniality [of] Zuhud according to Dusty Sayid Burn in Kifayah Al Atqiya' in fact [do] not differ far from picture above, that is:

" Eliminating depended liver to good and chattel ( world), non meaning to have no estae."

Other opinion tell, zuhud [is] to leave world fully. There [is] also telling, zahid [is] one who occupied x'self everything is mandatory [of] Allah and also leave all workdload to besides Its. May even exist telling, zuhud [is] to leave this world world will [there] no.
Difference [of] Congeniality [of] zuhud [among/between] the other and someone above, in fact leave from difference [of] each level or maqam in tasawuf. There [is] which when reaching certain maqam, someone only billah tsiqah ( trust fully to Allah) and surender x'self totally ( without endeavour and [do] not hope [at] besides Allah). That thing [is] mirror from three final definition about zuhud.

But, from congeniality [of] previous zuhud, can be taken [by] conclusion that zuhud non meaning to hate to world or have no good and chattel. But zuhud [is] to eliminate depended liver [at] besides Allah SWT ( good and chattel and is other). This conclusion in harmony with what have been explained [by] Al Ghazali, after [he/she] depict world - by is assorted [of] form and [his/its] variegation- what a affront and lower nya, his conclude: zuhud [is] leave all loved [by] passion atmosphere [go] to better with confidence what later he obtain;get much more [is] valuable compared to what left. Equally, zuhud [is] to leave earthly business to reach bliss [of] eternity.

Al Ghazali give picture as reflection to zahid ( one who [is] zuhud). First, (are) all the same to [among/between] owning estae and [do] not. Namely, [do] not feel to like with existence of estae, nor hard with no nya. [Both/ second], praised or interposed [by] others, [there] no influence to x'self. Third, pacification [of] its liver only leaning on Allah eye, and also its liver [is] fulfilled [by] feeling " scrumptious [of] nya devote" ( ta'at) to The Khaliq.

Become, zahid in fact is not someone which do not have good and chattel is at all. Is though his by good and chattel abundance, however if only base on Allah eye, do not to is other, can be categorized by zahid. Conversely, although someone do not have estae, however if its liver still base on besides Allah, cannot get out of world and always hope giving of others, hence him is not zahid.
All agreement, if zuhud represent a[n fomentation and is especial, as according to Prophet Muhammad polite:

" Use zuhud in world case, undoubtedly you will love by Allah. And use zuhud don't hope from something exist in human being grasp, undoubtedly you will take a fancy to human being."

In general, all of us it is true require good and chattel to take care of the continuity of life. But that thing don't be made by reason finish entire/all time just for working by forgetting obligation as mortal.

Target of human life non simply working and heaping good and chattel, but searching world kwbahagiaan and eternity ( Sa'adutud-daraini). World only as place plant ( Mazra'ah) by pious charitable as many as possible as stock for its life. Good and chattel only part of a world of a few/little its value is compared to life of endless and everlasting eternity. Hopefully I what have write this good for and useful in eternity and world……….Amen.

Kamis, 21 Oktober 2010

Asma'ul Husna

Dalam agama Islam, Asmaa'ul husna adalah nama-nama Allah ta'ala yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berati yang baik atau yang indah jadi Asma'ul Husna adalah nama nama milik Allah ta'ala yang baik lagi indah.

Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad SWT.
Berdasarkan keterangan : Allaahu ismun li dzaatil wajibul wujuud artinya : Allah itu adalah sebuah nama kepada yang pasti ada keberadaannya (eksistensi). Jadi jelaslah Allah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib untuk dilayani dengan sebenar-benarnya, karena berdasarkan keterangan: Allaahu ismun li dzaati ma'budi bi haqq artinya : Allaah itu adalah sebuah nama kepada sesuatu yang wajib dilayani (ma'budi) dengan sebenar-benarnya pelayanan (ibadah).
Dalam tradisi Islam disebutkan ada 99 nama untuk Allah (Asmaaul Husna), diambil dari nama-nama yang digunakan Al Qur'an untuk merujuk kepada Allah. Nama-nama tersebut adalah :

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ بِيده الخير وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
َw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ã&s! âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡çtø:$#
Mengandung Makna
Indonesia
Arab
No.
Allah
الله

Yang Memiliki Mutlak sifat Pengasih
الرَحمن
1
Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang
الرحيم
2
Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah
الملك
3
Yang Memiliki Mutlak sifat Suci
القدوس
4
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan
السلام
5
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan
المؤمن
6
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara
المهيمن
7
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
العزيز
8
Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa
الجبار
9
Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki Kebesaran
المتكبر
10
Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta
الخالق
11
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
البارئ
12
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa (makhluknya)
المصور
13
Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun
الغفار
14
Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa
القهار
15
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia
الوهاب
16
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki
الرزاق
17
Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat
الفتاح
18
Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki Ilmu)
العليم
19
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan (makhluknya)
القابض
20
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan (makhluknya)
الباسط
21
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan (makhluknya)
الخافض
22
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan (makhluknya)
الرافع
23
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya)
المعز
24
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)
المذل
25
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar
السميع
26
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat
البصير
27
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan
الحكم
28
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
العدل
29
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut
اللطيف
30
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia
الخبير
31
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun
الحليم
32
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung
العظيم
33
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun
الغفور
34
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi (Menghargai)
الشكور
35
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
العلى
36
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar
الكبير
37
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga
الحفيظ
38
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan
المقيت
39
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan
الحسيب
40
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
الجليل
41
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah
الكريم
42
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi
الرقيب
43
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan
المجيب
44
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas
الواسع
45
Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana
الحكيم
46
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta
الودود
47
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
المجيد
48
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan
الباعث
49
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan
الشهيد
50
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar
الحق
51
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara
الوكيل
52
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat
القوى
53
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh
المتين
54
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi
الولى
55
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji
الحميد
56
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi
المحصى
57
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai
المبدئ
58
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan Kehidupan
المعيد
59
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan
المحيى
60
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan
المميت
61
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup
الحي
62
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri
القيوم
63
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu
الواجد
64
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
الماجد
65
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tunggal
الواحد
66
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa
الاحد
67
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
الصمد
68
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
القادر
69
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa
المقتدر
70
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan
المقدم
71
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan
المؤخر
72
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal
الأول
73
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir
الأخر
74
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata
الظاهر
75
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib
الباطن
76
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah
الوالي
77
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
المتعالي
78
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma
البر
79
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat
التواب
80
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
المنتقم
81
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf
العفو
82
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih
الرؤوف
83
Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan (Semesta)
مالك الملك
84
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
ذو الجلال و الإكرام
85
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
المقسط
86
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan
الجامع
87
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan
الغنى
88
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan

المغنى
89
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah

المانع
90
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
الضار
91
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat
النافع
92
Yang memiliki mutlaq sifat Maha Bercahaya (Menerangi, memberi cahaya)
النور
93
Yang memiliki mutlaq sifat maha pemberi petunjuk
الهادئ
94
Yang indah tidak mempunyai banding
البديع
95
Yang memiliki mutlaq sifat maha sifat Maha Kekal
الباقي
96
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris
الوارث
97
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai
الرشيد
98
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar
الصبور
99