Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Tahun Baru 2012

Sebagai orang muslim yang bukan hanya mementingkan kehidupan dunia saja, tapi juga kehidupan akhirat, maka tindakan kita di dalam memasuki tahun baru ialah :

1. Bercermin pada kehidupan yang baru saja kita lalui di tahun sebelumnya. Jika ternyata pada tahun sebelum ini kita banyak berbuat kesalahan maka tahun mendatang kita harus mengubah sikap untuk berbuat kebajikan-kebajikan sebanyak-banyaknya. Tersebut dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw telah bersabda :

Artinya :
"Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana kamu berada, dan ikutilah perbuatan jahat dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik."

2. Bilamana dalam masalah keduniaan pada sebelumnya kita mengalami kemunduran, maka carilah sebab kemunduran itu. Lalu cari cara baru yang sekiranya dapat mendatangkan kemajuan. Janganlah kemunduran pada tahun sebelumnya membuat putus asa. Sebab putus asa di dalam mengharap rahmat Allah dan pertolongan Allah dilarang dalam Islam. Allah berfirman :

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
Artinya :
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir. (Yusuf : 87)

3. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah bilamana di dalam tahun yang baru dilalui itu memperoleh banyak kemajuan, baik dalam masalah duniawi maupun ukhrawi. Janganlah apa yang dicapainya selama ini lalu membuat lupa daratan, sehingga dalam tahun berikutnya lalu berlaku sombong, atau membangga-banggakan apa yang telah dicapainya selama ini. Ingat Qarun yang telah dilaknat Allah karena berlaku sombong berkat keberhasilannya didalam perniagaannya yang membawa dirinya semakin kaya. Padahal sebenarnya apa yang telah dicapainya itu semata adalah anugerah Allah.

Perhatikan firman Allah :

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya :
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maidah : 6)

Semoga langkah kita selanjutnya di dalam memasuki tahun baru mendapat petunjuk dan taufik-Nya. Amin ya Rabbal Alamin.

Jumat, 09 September 2011

DOA DENGAN PENGHARAPAN

 Pada postingan terdahulu (Meraih Ampunan Allah 1), telah dipaparkan sebab pertama dalam meraih ampunan Allah SWT. Lalu apa sebab berikutnya yang disyariatkan agama kita untuk meraih ampunan Allah itu. Sebab yang kedua adalah :

DOA DENGAN PENGHARAPAN 

Allâh Ta'âla memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya.
Allâh Ta'âla berfirman:

Dan Rabbmu berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”.

(Qs Ghâfir/ 40:60)

Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang-penghalang. Kadangkala, pengabulan itu tertunda, karena sebagian syarat tidak terpenuhi atau adanya sebagian penghalangnya.

Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijâbah dari Allâh Ta'âla , sungguh-sungguh dalam meminta, tidak menyatakan insya Allâh (Ya Allâh Ta'âla, kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendakinya-red), tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, mengulang-ulang doa tiga kali dan memulainya dengan pujian kepada Allâh Ta'âla dan shalawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal dan lain-lain. Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada Rabb-nya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari pengampunan dosa seperti diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda kepada seseorang yang berujar: “Saya tidak mengetahui do'amu dengan perlahan yang juga dilakukan Mu’âdz.”

"Permohonan kami di seputar itu." 

Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan surga dan diselamatkan dari neraka.

Abu Muslim al-Khaulâni rahimahullâh mengatakan:

“Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku,
kecuali saya jadikan doa itu permohonan agar dilindungi dari api neraka.” 

Setiap doa yang kita panjatkan sudah sepantasnya penuh harap dengan disertai ke khusyuan dan kesungguhan, dan kita yakini bahwa Allah maha mendengar dan akan mengabulkan doa-doa kita.

MERAIH AMPUNAN ALLAH (1)

Di antara nama Allâh Ta'âla adalah al-Ghafûr (Yang Maha Pengampun), dan di antara sifat-sifat-Nya adalah maghfirah (memberi ampunan). Sesungguhnya para hamba sangat membutuhkan ampunan Allâh Ta'âla dari dosa-dosa mereka, dan mereka rentan terjerumus dalam kubangan dosa.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:

Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allâh akan melenyapkan kalian,
dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa,
lalu mereka akan memohon ampun kepada Allâh,
lalu Dia akan mengampuni mereka.

(HR. Muslim, no. 2749)

Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Allâh Ta'âla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat ‘ujub (mengagumi diri sendiri), ghurûr (terperdaya dengan amalan pribadi) dan kesombongan.
Seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia dengan adanya amalan-amalan shalih agar Allâh Ta'âla menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa menghapus kejelekan. Sebab-sebab ampunan yang disyariatkan itu di antaranya:

1. TAUHID
Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah memiliki sebab ampunan yang paling agung.
Allâh Ta'âla berfirman:

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu,
bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

(Qs an-Nisâ‘/4:48)

Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allâh Ta'âla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun, hal ini berhubungan erat dengan kehendak Allâh Ta'âla. Apabila Dia Ta'ala berkehendak, akan mengampuni. Dan bisa saja, Dia Ta'ala berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut tauhîd di hatinya, maka kalimatut tauhîd tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allâh Ta'âla dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan.
‘Abdullâh bin ‘Amr radhiyallâhu'anhu meriwayatkan bahwa Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allâh akan menyendirikan seorang dari umatku
(untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat.
Lalu Allâh menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan amal) miliknya.
Setiap lembaran seperti sejauh mata memandang.
Kemudian Allâh berfirman:
“Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu”.
Maka ia pun menjawab: “Tidak wahai Rabbku”.
Lalu Allâh berfirman lagi: “Apakah kamu memiliki udzur?”
Ia menjawab: “Tidak ada wahai Rabb”.
Lalu Allâh berfirman: 

“(Yang benar) ada, sesungguhnya kamu memiliki kebaikan di sisi Kami,
tidak ada kezhaliman atasmu pada hari ini”.
Lalu dikeluarkan satu kartu berisi syahadatain.
Kemudian Allâh berfirman: “Masukanlah dalam timbangan!”
Ia pun berkata: 

“Wahai Rabbku apa gunanya kartu ini dibandingkan lembaran-lembaran itu?”
Maka Allâh berfirman: “Sungguh kamu tidak akan dizhalimi”.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:
“Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan
dan kartu tersebut di anak timbangan yang lain.
Ternyata lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kartu tersebut lebih berat.
Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allâh”
.[2]

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam dalam hadits Qudsi menyatakan:

Allâh berfirman:
"Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi
kemudian kamu menjumpai-Ku
dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik)
tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan.

(HR Muslim)

Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allâh Ta'âla dengan pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran-lembaran tersebut dengan kalimat tauhid. Karena kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari adzab. Allâh Ta'âla menganugerahinya surga dan menghapus dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka Allâh Ta'âla menggantikannya dengan ampunan.

Senin, 14 Maret 2011

Gempa dan Tsunami Di Jepang

Siapa tak kenal Jepang, sebuah Negeri yang mempunyai julukan Negeri Sakura. Yaa … Jepang memang termasuk Negara di Asia yang paling maju dalam hal apapun. Dari mulai tekhnologi, pendidikan, Olahraga dan sebagianya. Namun dibalik segudang prestasi dan semua kelebihannya itu, Jepang juga tekenal sebagai salah satu Negara yang akrab sekali dengan bencana alam yaitu gempa dan tsunami. Namun demikian Jepang sebagai negara bertekhnologi tinggi, menjadikan gempa dan tsunami yang kerap melandanya sebagai sebuah inspirasi untuk menemukan solusi paling tepat dalam rangka penanggulangan bencana alam tersebut. Alhasil Jepang menjadi pusat penelitaian gempa dan tsunami diseluruh dunia dan menjadi percontohan bagi negara-negara lain yang mempunyai potensi sering dilanda gempa dan tsunami seperti Indonesia. 

Namun sekali lagi kemampuan dan kecerdasan manusia amatlah terbatas bahkan sangat kecil bila dibandingkan dengan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Bagaimanapun jeniusnya para ilmuwan jepang tidak mampu menahan dan memprediksi secara akurat tentang bencana alam itu.

Pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2011 lalu, tepatnya pukul 2.46 waktu jepang atau pukul 12.46 waktu Indonesia. Warga Jepang dikejutkan oleh gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang empat menit kemudian disusul dengan gelombang Tsunami. Saking dahsyatnya gempa yang terjadi mengakibatkan banyak bangunan yang tergoncang dan terbakar, jalan-jalan banyak yang terbelah. Warga pun berhamburan menyelamatkan diri, apalagi ketika gelombang tsunami menerjang membuat semakin panik warga Jepang yang sudah biasa akan hal itu. Tapi ini adalah bencana terbesar yang terjadi di Jepang selama kurun waktu 140 tahun.

Gelombang Tsunami yang menghantam pesisir kota Sendai mencapai ketinggian 10 meter itu menghancurkan dan menghanyutkan bangunan serta apa saja uyang dilewatinya. Kapal-kapal yang sedang bersandar dihantam gelombang tsunami berkekuatan tinggi, mobil-mobil terapung bagai serbuk gergaji, semuanya luluh lantah.

Kota dan Desa sepanjang 2.100 kilometer yang berada digaris pantai timur Jepang muali dari Hokkaido hingga Wakayama menjadi daerah yang paling parah akibat guncangan gempa dan gelomabang tsunami yang melanda. Entah berapa jumlah kerugian berupa harta benda, berapa jiwa yang melayang ….. tak bias dibayangkan.

Sebagai manusia kita turut prihatin dan berduka atas bencana yang menimpa negeri matahari tersebut. Kita Bangsa Indonesia pernah mengalami hal serupa beberapa tahun silam ketika Serambi Mekkah diluluh lantahkan oleh gempa dan tsunami yang tak sedikit menelan korban baik harta maupun jiwa.

Betapapun hebatnya ilmu pengetahuan manusia kalau Allah sudah berkehendak, tak perduli Jepang yang canggih atau siapapun itu tidak akan pernah bisa menghalanginya. Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

“ Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah : 284)

Semoga setiap kejadian dibelahan bumi manapun semakin menumbuhkan kesadaran kepada kita, bahwa semuanya ada campur tangan Allah SWT yang maha kuasa. Sehingga kita tetap senantiasa berusaha dan berdo’a mohon ke ridhoan-Nya. Aamiin …..

Selasa, 04 Januari 2011

Tiga Bohong



Didalam kehidupan  kita sebagai manusia selalu dihadapkan kepada berbagai macam persoalan. Kadang ingin sekali rasannya kita berbuat sekehendak dan keinginan kita. Namun ketika kita menyadari bahwa sebagai insan yang beriman terikat oleh norma dan peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam agama Islam. Maka kita kita harus ridho dan ikhlas menjalankan semua peraturan itu.

Salah satu sikap yang senantiasa harus kita jaga dalam keseharian kita adalah senantiasa  berlaku jujur dan berusaha sekuat tenaga agar kita terhindar dari prilaku pendusta atau pembohong. Hal ini sepintas terlihat biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya ini sangat berperan penting dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim.

Sikap jujur adalah bagian dari Akhlakul karimah. Kejujuran akan mengantarkan manusia meraih derajat kehormatan yang tinggi, baik di mata Allah maupun antara sesama manusia. Dengan senantiasa bersikap jujur manusia akan senantasa berada dalam keridhoan Allah dan akan sampai kepada surganya Allah. Mengenai sikap jujur ini telah banyak diterangkan dalam Al Qur’an, diantaranya adalah :

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah :119)

Masih banyak ayat-ayat lain yang menyeru kepada manusia untuk selalu bersikap jujur. Lawan dari jujur adalah dusta atau bohong, Nah berkaitan dengan jujur dan dusta ini mari sama-sama kita perhatikan sabda Rasulallah Shalallohu alaihi wasalam :

Dari Ibnu Mas’ud ra, dari Nabi SAW, bahwa beliau telah bersabda :

“Sesungguhnya jujur menunjukan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukan jalan kesurga. Sesungguhnya seseorang yang jujur akan selau melakukan kejujuran sehingga dicatat disisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta menunjukan kepada kedurhakaan dan kedurhakaan menunjukan jalan ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang berdusta akan selalu melakukan kedustaan sehingga dicatat disisi Allah sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim).

Diatas itulah dasar  kenapa kita umat islam harus selalu besikap penuh kejujuran dan menjauhi sifat dusta. Namun disisi lain islam memberikan nilai positif kepada beberapa tindakan bohong yang bernilai kebaikan, dan ini pun tentu saja telah ditentukan oleh agama kita, mengenai tindakan bohong yang dibolehkan ini mari sama-sama kita lihat sabda Rasulallah SAW :

“Tidaklah aku anggap seorang itu berbohong apabila bertujuan mendamaikan diantara manusia, berkata sebuah perkataan tiada lain kecuali untuk mendamaikan, orang yang berbohong ketika dalam peperangan, dan berbohong kepada istrinya atau istri yang berbohong kepada suaminya“. (HR. Abu Dawud no. 4921 dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 54)

Berdasar kepada hadist diatas kemudian Imam Nawawi dalam Al-Adzkarnya menjelaskan tentang tiga bohong tapi tidak termasuk kedalam bohong. Tiga bohong itu ialah :

1.       Bohongnya seseorang untuk mendamaikan dua orang yang sedang berselisih atau bermusuhan. Hal ini berdasarkan hadist Rasulallah SAW :

“Bukanlah termasuk pembohong orang yang mendamaikan diantara manusia, berniat baik atau berkata baik”. (HR. Bukhari no. 26920)

Dengan demikian bohongnya seseorang dengan niat untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan, menurut hadist diatas adalah bukan termasuk bohong atau dengan kata lain, berbohong tapi dibolehkan dan tidak mendapatkan dosa bahkan berpahala. Kita ambil sebuah misal :

Si A dan Si B adalah dua orang sahabat yang sedang bermusuhan atau berselisih, lalu datang kita kepada si A dan berkata “Tadi dijalan saya bertemu si B, katanya dia kangen sama ente A….., pengen becanda kaya dulu lagi..” padahal B tidak pernah bicara apa-apa pada kita. Lalu ketika kita bertemu si B pun berkata “ Semalam saya ngobrol sama si A, si a bilang “ kalau ngobrol dan kumpul seperti ini tanpa ada si B rasanya kurang mantep…”begitu katanya.  Padahal si A pun tidak bicara seperti itu.

Nah, bohong yang diniatkan untuk mendamaikan dua orang yang bermusuhan seperti contoh kasus diatas, adalah bohong yang ditolelir dan pelakunnya tidak termasuk kedalam kategori pembohong. Wallahu a’lam ……

2.      Bohong dalam perang untuk menyelamatkan jiwa, baik diri sendiri maupun orang lain.
Rasulallah SAW bersabda :

“Perang adalah tipu muslihat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnul arabi Berkata :

“Bohong ketika perang adalah pengecualian yang dibolehkan berdasarkan Nash, sebagai keringanan bagi kaum muslimin karena kebutuhan mereka ketika itu” (Fathul Bari, 6/192).

3.      Bohongnya suami  untuk menyenangkan hati istrinya, atau bohongnya istri untuk menyenangkan hati suaminya.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulallah SAW yang tertera diatas.


Bohong adalah satu sikap yang bisa mengantarkan kita sampai dineraka, tetapi tiga bohong yang dipaparkan diatas adalah rukhshoh yang diberikan kepada umat Islam. Satu hal yang harus kita perhatikan dengan seksama, bahwa tiga bohong itu pun haris didasarkan niat ikhlas dan disesuaikan dengan kondisi kita semata-mata hanya karena Allah SWT, sehingga kalaupun kita harus berbohong itu sesuai dengan yang diajarkan dalam agama Islam dan tetap bernilai ibadah. Wallahu a’lam…….

Selasa, 07 Desember 2010

Tetap Bersyukur

Syukur kepada Allah yang tiada terhingga, karena-Nya lah sampai saat ini kita masih bisa merasakan berbagai macam ni’mat dalam kehidupan didunia ini. Dan sebagai hamba yang lemah kita tidak mungkin bisa menghitung betapa banyaknya ni’mat yang telah Allah karuniakan kepada kita semua. Maka benarlah Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 34 :
 
"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala sesuatu yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya." (Ibrahim: 34). 

Jika kita mau menyadari dan merenungi betapa agungnya ni’mat Allah yang telah Dia anugerahkan kepada kita, niscaya tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk durhaka kepada-Nya. Betapa tidak, sedangkan apa yang dialami seorang hamba dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan dalam tidur itu sendiri, semuanya itu tidak akan dapat ia jalani melainkan karena karunai dan izin dari-Nya. Apa yang ada pada diri dan jasad kita dari mulai ujung Rambut hingga ujung kaki adalah pemberian Allah. Apa yang ada di sekeliling kita dari mulai keluarga, kerabat, sanak saudara hingga harta benda adalah karunia Allah. Tidak ada satu detik pun yang dijalani Oleh seorang hamba dalam kehidupannya di dunia ini, melainkan ia selalu berada di bawah karunia dan anugerah Allah Yang Maha Pencipta. Allah Ta’ala berfirman

"Dan apa saja ni’mat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya)." (An-Nahl: 53).

Setelah mengetahui hakikat yang agung ini, lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai seorang hamba lemah yang tidak memiliki daya upaya apa pun untuk mewujudkan sesuatu melainkan karena pertolongan dari-Nya.  Lalu akankah kita durhaka kepada-Nya padahal setiap detik kita meni’mati pemberian-Nya? Akankah kita melalaikan-Nya karena kesombongan kita dengan mengatakan bahwa segala yang kita capai adalah karena usaha dan jerih payah kita belaka, padahal tidaklah kita tinggal melainkan di atas bumi-Nya dan bernaung di bawah langit-Nya? 

Dengan demikian sudah menjadi suatu keniscayaan dan kewajiban yang tidak dapat lagi kita tawar, yakni untuk senantiasa ber-syukur kepada Allah Ta’ala, kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Meski kita sadari, bahwa sebanyak apa pun kita berusaha untuk mensyukuri ni’mat Allah Ta’ala, niscaya syukur kita tersebut tidak akan mungkin dapat membayar segala keni’matan yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita, bahkan syukur yang kita lakukan pun, adalah bentuk ni’mat yang Allah karuniakan kepada kita. Karena tidak akan mungkin bagi kita untuk menjadi hamba Allah yang bersyukur jika bukan karena Ridha dan izin-Nya kepada kita. Perhatikan Firman Allah dalam Al-Qur’an :

"Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah." (Al-Baqarah: 172). 

Bersyukur kepada Allah tidak cukup dengan mengucapkan "Alhamdulillah" saja ketika kita mendapatkan ni’mat. Karena syukur tidak cukup hanya dengan lisan, melainkan harus dengan hati, juga lisan, dan anggota badan. Syukur dengan hati yakni kita mengakui dan meyakini bahwa apa pun ni’mat yang kita peroleh, semata-mata datangnya dari Allah Ta’ala. Sedangkan syukur dengan lisan, yaitu kita selalu membasahi lisan ini dengan dzikir dan ucapan syukur kepada-Nya. Adapun syukur dengan anggota badan, maka kita menggunakan segala bentuk ni’mat yang telah Allah anugerahkan kepada kita sebagai sarana untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kita pergunakan ni’mat apa pun yang telah diberikan-Nya untuk merealisasikan tujuan utama kita diciptakan, yakni untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56).

Dan salah satu obat yang dinasehatkan dalam agama islam agar kita menjadi orang yang bersyukur ialah dengan bersikap Qana’ah yaitu menerima apapun yang telah diberikan oleh Allah didalam kehidupan ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

"Jadilah orang yang qana'ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur." (HR. Ibnu Majah, nO. 4214, dan dishahihkan Oleh al-Albani). 

Kebahagiaan tidaklah diukur dengan berlimpahnya materi dunia, akan tetapi dengan kenyamanan dan ketenangan jiwa, dan itu hanya akan diraih oleh orang mukmin yang selalu bersyukur kepada-Nya. Marilah sama-sama senantiasa kita syukuri segala ni’mat yang telah dikaruniakan sekecil apa pun ni’mat itu menurut kita, karena Allah SWT telah menjanjikan pahala bagi orang yang mau bersyukur, dan mengancam dengan siksa bagi orang yang kufur. Sebagaimana Firman-Nya,

"Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7). 

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan selalu qana'ah terhadap apa pun yang kita dapatkan….Aamiin.


Jumat, 29 Oktober 2010

Sebuah Renungan


Beberapa hari ini kembali masyarakat Indonesia berada dalam kesedihan dan duka. Rentetan peristiwa yang tidak sedikit memakan korban harta dan jiwa terjadi silih berganti. Dimulai dari banjir bandang di Washior, gempa bumi yang diiringi tsunami di Mentawai, Merapi yang erupsi, sampai kepada genangan air yang hampir diseluruh Jakarta. Belum termasuk kejadian-kejadian lainnya yang selalu menjadi bumbu harian setiap media seperti perampokan, pemerkosaan, kebakaran, kerusuhan tabrakan dan sebagainya.
Berkaitan dengan begitu banyaknya peristiwa dann kejadian yang terjadi di negeri ini, mari kita ingat kembali istilah-istilah yang diberikan oleh Allah untuk berbagai peristiwa yang menimpa manusia, sebagai bagian dari intropeksi diri dan merupakan langkah awal menuju sebuah perbaikan.
Dalam Al qur’an ada tiga istilah untuk kejadian-kejadian yang menimpa manusia, ketiganya itu ialah Azab, musibah dan bala. Perbedaan ketiganya sangat jelas diterangkan oleh Al Qur’an,
1)     Azab adalah siksaan yang ditimpakan kepada manusia yang melampaui batas kemaksiatan dan dosa. Namun azab tidak ditimpakan kepada orang beriman. Beberapa jenis azab yang ditimpakan kepada orang yang melampaui batas, sebagaimana kaum Nuh yang Allah tenggelamkan dikarenakan mendustakan seorang Rasul, atau kaum Tsamud yang disebabkan tak beriman, membusungkan dada dan menantang datangnya adzab, Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dengan gempa yang mengguncang mereka, atau seperti kaum Luth yang dikarenakan perzinaan sesama jenis, homosexsual, Allah hujani mereka dengan batu, atau seperti kaum Madyan yang Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan disebabkan curang dalam takaran dan timbangan serta membuat kerusakan dimuka bumi dan menghalangi Orang untuk beriman, atau seperti kaum ‘Aad yang disebabkan tidak memurnikan tauhid dan bersujud kepadaNya, Allah kiRim kepada mereka angin yang sangat panas yang memusnahkan mereka. Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluh lantahkan disebabkan satu dua kemungkaran yang dikepalai kesyirikan,
Atau kejadian yang diabadikan oleh Al Qur’an. Dalam Sirat Al-Fiil. Kisah tentang raja Abrahah penguasa dari Yaman yang ingin memindahkan Ka’bah, Akan tetapi sebelum mereka sampai Allah sudah terlebih dahulu mengutus burung ababil untuk menghancurkan mereka  :
“Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang        berbondong-bondong,”
“yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,”
Menurut Syaikh Muhammad abduh ada virus yang dibawa burung  yang menyerang seluruh pasukan bergajah itu , maka seluruh dagingnya cair tinggal tulang-belulang yang putih, akan tetapi kakek dari Nabi Muhammad tidak terkena azab tersebut. Ini suatu contoh bahwa hanya orang durhaka yang tertimpa azab dan orang beriman tidak akan terkena azab.Dan masih banyak kaum-kaum yang ditimpa azab oleh Allah SWT yang diabadikan dalam Al Qur’an. Dan Mengenai azab ini marilah kita renungkan Firman Allah dalam Al-quran Surat al-An’am ayat 65-67 :
           
65. Katakanlah: " Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu[482] atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti[483] agar mereka memahami(nya)".
66. dan kaummu mendustakannya (azab)[484] Padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: "Aku ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu".
67. untuk Setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.
2)     Yang Kedua Musibah, musibah tidak hanya menimpa kepada orang-orang kafir dan durhaka saja, tetapi juga menimpa orang-orang yang beriman dan juga orang-orang yang sholeh. Dengan demikian apabila dalam suatu peristiwa atau kejadian terdapat korban yang bukan hanya dari golongan orang-orang kafir saja tetapi banyak juga dari golongan orang-orang yang beriman, ini bisa kita sebut musibah.
Fungsi musibah didalam Al Qur’an dan hadist adalah untuk menguji siapa orang yang termasuk hamba Allah yang sejati, mari kita perhatikan firman Allah dalam Al-qur’an :
 “ Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.”
Musibah didalam Al Qur’an berfungsi juga sebagai penghapus dosa masa lampau, ada sebuah hadist yang mengungkapkan :
“Jika Allah berkehendak baik terhadap hambanya, maka Allah akan menurunkan musibah terhadap hamba itu didunia, sehingga lunas didunia dan tidak lagi mendapat siksaan di akhirat, begitupun sebaliknya jika Allah berkehendak tidak baik terhadap hambanya, maka ia akan menunda siksanya untuk diakhirat sana.
Oleh karena itu jika kita saat ini tidak terkena musibah, jangan lantas berpuas diri, karena khawatir kita termasuk dalam golongan yang kedua dari hadist ini. Yaitu mendapat siksa dineraka kelak
3)     Bala, bala lebih merupakan human eror yaitu kesalahan atau kecerobohan manusia sehingga terjadi kecelakaan dan hal hal yang merugikan dirinya sendiri. Yang harus kita perhatikan disini, ketika Allah menugaskan manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini yaitu untuk menjaga dan merawat bumi ini. Maka, tunduknya alam semesta kepada manusia selama manusia itu sendiri tidak melampaui batas, akan tetapi jika manusia melampaui batas maka alam semesta itu tidak lagi tunduk kepada manusia bahkan bisa menjadi bencana buat manusia. Kalau tadinya laut digambarkan oleh Alqur’an sebagai sarana transfortasi bisa jadi sebagai tempat terjadinya bencana. Angin yang tadinya berfungsi sebagai alat penyerbukan bisa berubah menjadi angin topan yang ganas, yang menghancurkan manusia itu sendiri. Firman Allah :
 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dari pemaparan diatas, kita bisa menilai….apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan diri kita?.....Apa yang sebenarnya yang terjadi dinegeri ini. apakah ini azab, musibah atau bala?
Selanjutnya mari kita renungkan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 79 :
“ Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.
Semoga kita tergolong orang-orang yang senantiasa pandai menjalankah amanah dari Allah sehingga kita selalu diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan kita, dijauhkan dari segala macam bala dan keburukan.
Saudara seiman, sebangsa dan setanah air yang saat ini terkena bencana, kita do’akan semoga diberikan ketabahan, keasabaran dan kekuatan oleh Allah SWT.